Sabtu, 25 Maret 2017

NHW 9: Bunda Sebagai Agen Perubahan

Bismillah..
Akhirnya sampai pada nhw terakhir pada matrikulasi ini. Pada nhw kali ini saya akan merumuskan suatu social venture yang berawal dari minat dan hobi saya.

Minat dan hobi saya yaitu merias para muslimah untuk hari spesialnya. Untuk bisa merias dibutuhkan hard skill dan soft skill. Hard skill yang harus dimiliki oleh seorang perias adalah tentunya kemampuan untuk merias. Kemampuan menguasai teknik merias yang baik, seperti pengaplikasian foundation maupun pemilihan merk makeup yang cocok. Sedangkan soft skill yang harus dimiliki seorang perias adalah kemampuan untuk bisa memberikan service excellent pada setiap klien yang mau dirias. Service excellent ini penting agar klien merasa nyaman dan puas ketika dirias.

Isu sosial yang saya lihat adalah ketika seorang muslimah kesulitan dalam mencari perias yang paham akan aturan islam seperti tidak boleh cukur alis dan memakai bulu mata palsu.

Dalam hal ini cakupan masyarakat yang dimaksud adalah para muslimah yang paham akan syariat islam. Dari sini saya memunculkan ide sosial yaitu makeup syar'i khusus untuk para muslimah.

Perias syari memang mulai banyak menjamur di berbagai kota. Hal ini merupakan pertanda baik karena akan semakin banyak yang akan mengedukasi masyarakat tentang bagaimana riasan yang sesuai dengan syariat islam.

Semoga Saya bisa bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat luas. Aamiin.

Alhamdulillah bini'matihii tatimussalihaat..

Jumat, 17 Maret 2017

NHW 8: Misi Hidup dan Produktivitas

Bismillah..

Pada kuadran 1 mengenai aktivitas yang saya SUKA dan BISA, saya menulis aktivitas bisnis dan travelling. Kali ini saya memilih ranah bisnis untuk saya perdalam lagi dengan beberapa pertanyaan berikut:

1. Saya ingin menjadi apa? (Be)
Saya ingin menjadi seorang mompreneur yang professional.

2. Saya ingin melakukan apa? (Do)
Dengan menjadi mompreneur saya ingin mengajarkan anak2 saya berniaga sejak dini. Agar kedua anak laki-laki saya belajar mencari maisyah sejak kecil sehingga ia sudah mapan jika ingin menikah muda, seperti saya dan suami.

3. Saya ingin memiliki apa? (Have)
Saya ingin memiliki bisnis yang maju dan mapan saat usia saya 30 tahun. Ingin memiliki kebebasan finansial.

Kemudian pencapaian sesuai dengan kurun waktu tertentu, dibagi menjadi pertanyaan berikutnya :

1. Apa yang ingin saya capai dalam kurun waktu kehidupan saya (lifetime purpose)?
Dengan berbisnis saya ingin bebas finansial agar kami sekeluarga terhindar dari bahaya dan dosa riba.  Memiliki rizki yang halal dan berkah, agar memudahkan kami dalam menjalankan ibadah lainnya seperti bersedekah, zakat, umroh atau haji.

2. Apa yang ingin saya capai dalam kurun waktu 5-10 tahun kedepan (strategic plan)?
Dalam waktu 5-10 tahun kedepan saya ingin sudah memiliki bisnis yang maju dan mapan saat usia 30 tahun, masih ada waktu 6 tahun lagi untuk saya bisa membangun sistem bisnis yang lebih baik lagi.

3. Apa yang ingin saya capai dalam kurun satu tahun?
Dalam satu tahun ini saya ingin memiliki sebuah mobil pribadi, meskipun mobil bekas dan murah. Saya ingin menghindari riba dengan cara menghindari leasing mobil baru, walaupun kami sanggup membayar cicilan tiap bulannya.

Alhamdulillah bini'matihii tatimussalihaat..

Minggu, 19 Februari 2017

NHW 4 Mendidik Anak Dengan Kekuatan Fitrah

Bismillah..

Dalam NHW 4 ini merupakan evaluasi dari NHW sebelumnya, sehingga ilmu yang sudah didapat semakin terikat dan melekat dalam di kehidupan sehari-hari.

Pertama, jurusan ilmu yang saya pilih dalam universitas kehidupan ini adalah menjadi make up artist atau perias yang sesuai dengan syariat Islam. Sampai dengan hari ini saya masih yakin dengan jurusan saya tersebut. Lebih luasnya lagi saya ingin belajar tentang seluk beluk dalam mengadakan sebuah acara pernikahan (wedding organizer). Salah satu alasan lainnya mengapa saya ingin ada di jurusan ini, selain yang sudah saya sampaikan di NHW 1, adalah waktu yang lebih banyak bisa saya habiskan untuk keluarga, karena menangani suatu pernikahan biasanya hanya terjadi di hari weekend dan itu pun hanya beberapa jam saja. Jadi saya tetap dapat berkarya sembari tetap memiliki waktu yang banyak untuk anak-anak, dibanding saya bekerja dengan work hours yang banyak menyita waktu dan pikiran.

Kedua, mengenai konsistensi untuk mengisi checklist indikator yang sudah saya buat di NHW 2. Sejujurnya saya belum sepenuhnya konsisten mengisi cheklist tersebut. Beberapa minggu ini  saya masih terjebak pada beberapa urusan yang menyita banyak pikiran, seperti urusan wisuda saya dan rencana untuk pindah rumah ke luar kota. Saya tahu, bahwa sebenarnya ini bukan alasan untuk menghambat saya untuk melakukan semua indikator-indikator yang telah saya buat. Semoga setelah segala urusan (khususnya tentang pindah rumah) selesai, saya dapat lebih bekerja keras untuk menjalani segala cheklist yang sudah dibuat.

Ketiga, mengenai peran hidup saya di muka bumi ini, hal ini membuat saya 'membaca' apa yang telah Allah rencanakan dengan hidup saya di dunia. Saya senang sekali ketika membantu klien-klien muslimah saya dalam melaksanakan hari spesial mereka, yaitu saat pernikahan mereka. Ada rasa kebanggan tersendiri ketika saya terlibat dalam suatu momen yang sangat sakral, ketika para malaikat berkumpul untuk sama-sama menyaksikan suatu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghaliza). Oleh karena itu saya merangkum sebuah Misi Hidup yaitu, membantu para muslimah dalam menyelenggarakan pernikahan, khususnya dalam bidang: pernikahan yang sesuai dengan syariat Islam, dan peran saya adalah sebagai perias pengantin yang syari.

Keempat, berkaitan dengan ilmu-ilmu yang mendukung dalam menjalankan Misi Hidup saya, saya merumuskan beberapa ilmu yang harus saya kuasai agar menjadi seorang perias professional.
1. Make up artist professional: ilmu tentang bagaimana caranya merias sesuai dengan bentuk wajah seseorang dan sesuai dengan acaranya.
2. JILBAB-DO: ilmu mengenai cara merias jilbab yang sesuai dengan syariat Islam.
3. Busana pengantin syari: ilmu tentang merancang dan membuat busana pengantin yang syari.

Kelima, menentukan milestone untuk memandu perjalanan Misi Hidup saya. Sebenarnya saya telah memasuki bidang ini sejak tahun 2014 saat saya berusia 22 tahun, jadi saya menetapkan KM 0 saya pada usia 22 tahun (2 tahun lalu), namun pada saat itu memang saya merasa masih kurang fokus dalam menjalankan misi karena pada saat itu saya masih berstatus menjadi mahasiswi. Jadi selama ini misi hidup saya hanya sebatas 'pekerjaan sampingan' saya selain menjadi mahasiswi, istri, dan seorang ibu. Saat ini saya telah lulus dari perkuliahan, dan saya kembali berazzam untuk lebih fokus dalam menjalankan misi hidup saya. Dengan kaidah 10.000 jam terbang untuk menjadi profesional di bidang make up artist syar'i, saya membutuhkan 7 tahun dengan asumsi saya mendedikasikan 4 jam tiap harinya untuk belajar/menjalankan misi hidup.

KM 0 - KM 3 (3 tahun) : menguasai ilmu make up artist professional.
KM 3 - KM 4 (1 tahun) : menguasai ilmu tentang Jilbab Do
KM 4 - KM 7 (3 tahun) : menguasai ilmu tentang busana pengantin syar'i

Dengan milestone ini, insyaa Allah saya akan menjadi profesional dibidang makeup artist syar'i pada usia 29 tahun.

Keenam, mengenai koreksi kembali poin-poin checklist Indikator yang telah dibuat sebelumnya. Saya belum mencantumkan poin belajar ilmu-ilmu yang mendukung misi hidup saya. Koreksi yang telah saya buaf bisa dibuka pada link berikut:

https://drive.google.com/file/d/0B4O1gxxeubAccHlnNEJDMVM1TlU/view?usp=drivesdk

Ketujuh, lakukan, lakukan, dan lakukan. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan kemampuan untuk menjalankan misi hidup saya.

Alhamdulillahi rabbil 'alamiin..

Sabtu, 11 Februari 2017

NHW #3 Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Bismillah..
NHW 3 kali ini semakin membuka mata saya akan potensi-potensi unggul yang kami (sekeluarga) miliki, dan bagaimana potensi itu bermanfaat untuk banyak orang.

Bagi suamiku, Dhia Ulhaq..
Saya memberikan surat cinta untuknya via whatsapp. Beliau membalas bahwa dia suka dengan naluri kata-kata yang saya berikan. Saya jarang sekali memberikan kata-kata pujian, apresiasi untuk suami. Surat cinta ini adalah momen untuk saya berlatih agar lebih mudah untuk menyampaikan kata-kata apresiasi untuk suami.

Bagi kami, naluri cinta memiliki 5 komponen: kata-kata, pelayanan, hadiah, sentuhan, dan quality time. Setiap orang berbeda-beda dalam urutannya. Suami saya menempatkan kata-kata sebagai naluri cinta yang pertama. Kata-kata pujian dan apresiasi membuatnya merasa secure dan dicintai.

Bagi si sulung, Irsyad Sabilil Haq..
Si sulung kami memiliki banyak potensi yang dimilikinya. Ia mudah berbaur dengan orang lain dan tidak cemas bila saya tidak di sampingnya. Hal ini bukan saja datang tiba-tiba, namun karena sejak berusia 7 bulan irsyad sudah terbiasa saya tinggal di daycare sementara saya kuliah. Meskipun sesekali dia merengek saat saya pamit meninggalkannya, yaitu saat dia sakit atau saat sedang badmood.

Meskipun kemampuan berbicaranya sedikit terlambat dibanding anak-anak lain, namun bentuk tubuhnya dan gerakan motorik kasarnya diatas rata-rata anak-anak seusianya. Diusianya yang baru 3 tahun, dia sudah mampu mengendarai sepeda roda dua.

Irsyad si sulung juga memiliki bakat perfeksionis, dia suka menjejerkan barang-barang apapun, mobil-mobilan, pulpen, bantal, bahkan tempe yang baru saya iris-iris pun dijejerkan 😂. Dia menjadi sangat marah apabila barang-barang yang dia jejerkan tiba-tiba diluluh lantakkan oleh adiknya.

Irsyad sangat ekspresif dengan emosinya. Jika dia senang, dia bisa lompat-lompat kegirangan dengan wajah yang menyeringai senang. Pun sebaliknya, jika dia merasa marah/kecewa dia bisa menangis sekencang-kencangnya hingga memukul/menendang.

Namun begitu, irsyad mulai pandai membaca situasi sosial. Pernah suatu ketika saya menangis dan kesal (bukan karena anak/suami), irsyad yang melihat saya menangis kemudian berkata "cep bunda cep..", lalu ia lari ke dapur dan kembali membawa segelas air, memberikannya pada saya dan berkata "udah ya nangisnya, ini minum dulu..". Ini yang membuat saya jadi menangis terharu karena bangga.. 😢

Bagi si bungsu, Ikram Shahib Elhaq..
Diusianya yang baru 1,5 tahun ikram sangat sanguin. Dia lebih mudah untuk tertawa dibanding menangis. Jika menangis pun, tidak sulit untuk mendiamkannya. Seperti kakaknya, ikram pun mudah berbaur dengan orang lain dan tidak cemas bila saya tinggal.

Saat ini dia sedang belajar berbicara meskipun masih lebih banyak babbling nya. Dia juga sedang suka mengimitasi aktivitas saya, seperti sholat dan memasak.

Bagi saya, Endita Ayumi Kartika..
Saya sangat suka belajar hal baru, mencoba-coba sesuatu yang belum pernah saya lakukan. Dalam hal potensi diri, saya memiliki prinsip bahwa sebelum usia 30 tahun saya bebas mengeksplorasi potensi diri dari segala bidang. Apakah itu dari bidang parenting, pernikahan, entrepreneur, ataupun bidang make up artist yang kini saya geluti. Jadi di usia 30 tahun ke atas saya sudah mantap dengan satu bidang yang memang menjadi minat dan bakat saya. Menurut saya, pasti ada kisah-kisah trial-error dibalik orang-orang yang sudah terbukti sukses. Karena usia saya masih 24 tahun, berarti masih ada waktu 6 tahun lagi untuk lebih mengeksplorasi segala potensi yang saya miliki.

Saya yang suka mencoba hal baru ini sangat bersyukur dipasangkan dengan suami yang sangat supportif dengan segala keputusan yang saya buat. Suami menjadi orang pertama yang mendukung saat saya ingin memulai bisnis online. Suami yang selalu mengantarkan saya untuk menghadiri kelas makeup artist untuk profesional. Suami lah yang mau mendengarkan 'ceramah' saya bila saya baru saja menghadiri seminar parenting, pernikahan, atau seminar apapun. Suami pula yang mendukung hobi fotografi saya yang terbilang cukup mahal.

Bagi lingkungan tempat tinggal saya..
Saat ini sudah 1,5 tahun saya menempati rumah baru ini. Lingkungan di sini masih baru dan sepi. Namun saya beruntung memiliki tetangga kanan-kiri yang baik hati. Meskipun sekedar berbagi makanan atau oleh-oleh kecil yang kami punya.

Setelah kuliah saya selesai di sini, kami berencana untuk melanjutkan hidup di subang, tempat kerja suami, karena selama ini kami hidup semi LDM antara Jatinangor-Subang. Jika tinggal bersama dengan suami, saya pikir kami akan saling menyatukan kekuatan untuk menjalankan misi-misi pernikahan yang sempat tertunda selama kami menjalani LDM.

Semoga Allah selalu memberkahi setiap langkah-langkah kami, di manapun kami berada.

Alhamdulillah bini'matihii tatimusshalihaat..

Rabu, 25 Januari 2017

Tugas Bulanan Ceria #TugasJanuari

Hikmah Pernikahan...

Bismillahi Rahmanir Rahiim..

Kehidupan pernikahan merupakan salah satu gerbang titik balik manusia dalam memasuki kehidupan yang baru. Karena sejatinya pernikahan adalah proses perkenalan seumur hidup, pasti selalu ada halang dan rintang di setiap episode pernikahan. Bahkan ketika baru memasuki gerbang pernikahan, tak selamanya hanya masa-masa honeymoon saja yang dirasakan.

Begitupun saya ketika baru mencicipi rasanya hidup berdua dengan seseorang yang dicinta. Enam bulan pertama yang katanya 'honeymoon fase' tak melulu rasanya manis bak madu. Saya merasakan rasanya keguguran (abortus complete) di awal tiga bulan pernikahan, rasanya sedih bukan kepalang. Merasakan pula rasanya ditipu oleh kerabat, hingga rugi berjuta-juta. Kemudian merasakan 'indahnya' menikah sambil kuliah, yang membuat hati saya maju-mundur untuk tetap berjuang di kampus padjadjaran, karena saya sudah memiliki prioritas lain yang lebih utama, yaitu: keluarga.

Namun dibalik semua ujian-ujian tersebut, dibaliknya terdapat hikmah besar yang tak semua orang bisa merasakannya. Kejadian keguguran memberikan saya pelajaran bahwa buah hati merupakan titipan dari Allah, dan hanya Allah-lah yang berhak atas hidup, mati, dan rejeki anak kita. Alhamdulillah dua bulan setelah saya keguguran, Allah kembali memberi kepercayaan amanah berupa anak kepada kami. Saya hamil lagi, dan kini sudah ada dua penyejuk hati yang sehat dan menggemaskan yang selalu menemani hari-hari kami.

Kejadian ditipu oleh kerabat, sangat memberi pelajaran pada kami. Tawakal alallah.. rejeki sudah diatur Allah. Merasakan rasanya hidup terhimpit itu sangat luar biasa nikmatnya. Setelah itu kami belajar untuk membangun bisnis dari bawah. Memperbanyak silaturahmi dengan orang-orang besar dan hebat.

Dari kejadian nikah-sambil-kuliah? Tiap kali pergi kuliah dengan bermotor, saya membawa benda-benda berikut ini: dua anak saya (irsyad & ikram), dan tiga tas (tas irsyad, ikram, dan saya). Masya Allah.. luar biasa rasanya. Allhamdulillah kini saya telah lulus kuliah (2 pekan lalu). Kini pun saya heran, bisa dapat kekuatan dari mana sehingga saya setiap hari bisa 'akrobat' seperti itu? Hehe. Kekuatan dari mana lagi jika bukan karena Allah yang telah memberikan saya kekuatan. Alhamdulillah ala kulli haal...

Dalam pernikahan juga sejatinya adalah proses belajar seumur hidup. Perbedaan kepribadian, sifat, hobi, dan lain-lain antara kita dengan pasangan menjadi hal yang lazim terjadi. Pun saya dan suami. Saya orang yang introvert melankolis ternyata berjodoh dengan suami yang ekstrovert sanguinis. Dulu saya rasanya sangat sulit untuk afektif, sulit untuk menyampaikan perasaan saya ke orang lain, termasuk ke suami. Sekalinya saya ingin menyampaikan sesuatu yg sudah terpendam, sering kali saya terlalu meledak-ledak dalam menyampaikannya. Namun suami dengan sabar membimbing, bahwa penting untuk menyampaikan perasaan dengan cara yang tepat, karena manajemen komunikasi & emosi merupakan elemen penting dalam sebuah pernikahan bahagia. 

Itu sekelumit cerita dari kehidupan pernikahan saya. Kami masih terus belajar dan belajar agar bahtera ini tidak salah dalam berlayar, agar lautan kehidupan ini selalu senantiasa memberikan petualangan yang 'seru' untuk kami sebrangi. 

Alhamdulillahilladzi bini'matihii tatimussalihaat.. 

NHW #1 "Adab Menuntut Ilmu"

Bismillahi Rahmanir Rahiim..

1. Jurusan ilmu yang ingin saya tekuni dalam universitas kehidupan ini adalah ilmu di bidang wedding organizer, lebih spesifiknya lagi saya ingin memiliki keahlian di bidang rias pengantin yang sesuai syariat islam.

2. "Strong Why" saya dalam memilih bidang ini adalah:
Berawal dari pengalaman saya menggunakan jasa wedding organizer pada pernikahan saya. Saya merasa tidak puas dengan pelayanan jasa WO tersebut, karena ada beberapa prinsip-prinsip yang tidak sesuai dengan keinginan saya. Saya sudah menyampaikan pada perias bahwa saya ingin model jilbab yang menutup dada, dan saya menyesal hanya mengatakan syarat tersebut tanpa mengatakan keinginan saya secara mendetail. Benar saja, pada hari H, memang jilbab saya dibuat menutup dada, namun saya dipakaikan konde yang tinggi bak kepala alien pada saat akad dan resepsi pernikahan. Padahal saat itu saya paham bahwa memakai konde punuk unta tidak sesuai dengan syariat islam. Saya yang introvert sulit untuk menolak eksekusi dari sang perias yang lebih 'dominan', jadilah saya pasrah dengan kemauan si perias. Dari situ, saya ingin menyalurkan 'dendam positif' dengan membuat wedding organizer yang sesuai dengan syariat-syariat islam, dan memudahkan para muslimah dalam merancang pesta pernikahan impiannya.

3. Bagaimana strategi dalam menuntut ilmu di bidang wedding organizer?
Saya memperhatikan beberapa wedding organizer ternama dalam merancang sebuah pesta pernikahan. Dari hasil pengamatan saya, sebuah wedding organizer pasti memiliki satu atau lebih bidang yang dikuasainya sendiri. Ada yang berbasis bisnis katering, ada yang berbasis rias dan gaun pengantin, dan ada yang berbasis dekorasi. Saya memilih bidang rias dan gaun pengantin (makeup artist & attire) sebagai keahlian utama saya. Ketika saya sudah menguasai bidang tersebut, baru saya akan memperluas bidang ilmu saya tentang wedding organizer.
Bagaimana strategi saya dalam mempelajari ilmu makeup artist?
Saya awalnya sangat awam dengan dunia makeup. Pada tahun 2014 saya mengikuti kelas self make up (makeup untuk diri sendiri) sebagai dasar ilmu tentang dunia rias. Setelah itu saya mengikuti kelas lanjutan yaitu professional makeup class di tahun yang sama pada guru yang sama. Selama tahun 2015-2016 saya mempraktekkan ilmu rias saya pada klien-klien muslimah. Sudah belasan muslimah yang saya dandani untuk acara pernikahan, acara wisuda, atau yang mengikuti kursus makeup. Jumlah ini masih sangat sedikit mengingat saat itu saya masih belum fokus dalam bidang ini karena masih menyelesaikan kuliah.
Setelah lulus kuliah (2 pekan lalu) saya berazzam ingin mengikuti kelas makeup dengan guru yang lebih professional dalam rangka mengupgrade skill saya. Insya Allah bulan Maret saya akan mengikuti makeup class yang diselenggarakan oleh makeup artist professional asal Malaysia. Kemudian saya juga berazzam akan mengikuti makeup class setiap setahun sekali dalam rangka terus mengupgrade skill saya dalam bidang rias dengan berguru dengan perias-perias profesional lainnya.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, banyak hal yang harus saya perbaiki demi keberkahan sebuah ilmu. Adab pada diri sendiri, secara tidak sadar terkadang saya masih merasa "sudah tahu" dalam suatu kajian keilmuan. Padahal perasaan "sudah tahu" malah akan menghalangi ilmu itu masuk dalam jiwa kita. Harus lebih banyak berlatih untuk 'mengosongkan gelas' sebelum memulai suatu kajian ilmu, agar ilmu bisa masuk tertanam dengan mudah. Dalam hal adab terhadap sumber ilmu, seringkali saya harus lebih skeptis dalam menerima sebuah informasi. Apakah ilmu tersebut baik DAN sesuai syariat? Misalnya saja ketika saya mengikuti makeup class yang mengharuskan saya memakai bulu mata palsu, padahal saya mengerti bahwa memakai bulu mata palsu melanggar syariat islam. Maka dalam mengikuti sebuah kajian ilmu, kita harus lebih skeptis dalam menyerap informasi atau ilmu, apakah ilmu ini baik? apakah ilmu ini bermanfaat? dan yang terpenting apa ilmu ini sesuai syariat? Karena apapun yang kita lakukan sejatinya hanya menginginkan ridho dari Allah, dan setiap keridhoan Allah sudah pasti akan membawa keberkahan hidup.

Alhamdulillah bini'matihi tatiimusshalihat..

Kamis, 08 Mei 2014

The Romance of Abortus Completus

Bismillah...

Hampir menjelang usia dua tahun pernikahanku..
Di awal pernikahan, sempat berpikir ingin menunda untuk memiliki momongan, karena beberapa alasan termasuk aku dan suami yang masih kuliah. Seakan ingin menikmati masa pacaran setelah pernikahan, kami tak ingin diganggu dulu oleh suara tangis dan repotnya mengurus bayi. Sampai suatu saat, tak sengaja mendengar rekaman ta'lim Darusy Syabab binaan kang Rendy Saputra. Beliau berkata bahwa menikah dan memiliki keturunan adalah suatu fitrah dan sunnatullah yang tidak bisa dielakkan. "Jika tidak ingin punya anak, ya tidak usah menikah" ujarnya ketika melihat fenomena orang-orang barat yang menikah dan lebih memilih memelihara anjing dari pada memiliki anak.

Ada rasa hati yang kosong ketika mendengar tausiah beliau..
Bukankah dahulu menjadi cita-citaku untuk menikah muda dan langsung punya anak, sehingga jarak usiaku dan anakku tak begitu jauh? Cita-cita membangun keluarga sekaligus tempat peradaban baru untuk umat yang lebih baik.
Apa diriku merasa cemas? Bagaimana jika aku kesulitan mengurus anakku? Bagaimana jika kuliahku menjadi keteteran? Bagaimana jika aku tak bisa membiayai kehidupan anakku?
Dan pertanyaan "bagaimana jika" lainnya terus menggelayuti pikiranku.


Aku pun tersadar sedang 'menentang' takdir Allah.
Siapalah diriku yang takut tak bisa memberi makan anakku nanti, sedangkan Allah yang Maha Pemberi Rizki telah menjamin rezeki anakku?
Siapalah diriku yang takut tak bisa melanjutkan kuliah, sedangkan aku punya Allah yang selalu memberiku kekuatan?

Baiklah, akhirnya aku bertekad untuk segera memiliki momongan, dan Allah cepat sekali mengabulkan permintaanku. Betapa bahagianya aku ketika mengetahui diriku hamil, tujuh minggu setelah hari pernikahanku. Suami, keluarga, dan teman-teman kuliah ikut senang dengan berita ini. Saat pertama kali periksa ke dokter kandungan, ternyata sang janin telah berusia lima minggu. Masih belum terlihat apa-apa, hanya seperti gumpalan daging. Meskipun begitu, aku tak dapat membendung kesenangan yang kurasakan.

Pertanyaan yang paling sering terdengar dari teman-teman adalah, "gimana rasanya hamil, ndit?", yang sering pula kujawab, "seperti ada kupu-kupu terbang di dalam perutmu yang harus kau jaga dengan hati-hati" sambil tertawa kecil.

Namun, kesenangan itu hanya sementara..
Pagi itu, aku berangkat kuliah seperti biasanya, dan pulang ke rumah di sore harinya. Saat ingin membersihkan diri, ternyata ada sedikit flek yang keluar. Aku lantas lapor ke suami, dan suami menyuruhku bedrest di rumah. Kemungkinan flek itu karena aku yang terlalu lelah menjalani aktivitas. Esoknya, aku pun menuruti titah suami untuk seharian bedrest dan izin tak masuk kuliah, dengan harapan flek tersebut dapat berkurang.

Setelah dirasa cukup istirahat di rumah, esoknya aku masuk kuliah lagi seperti biasa. Namun, flek bukannya berkurang, malah semakin bertambah banyak. Aku dan suami mulai panik. Sore itu, suami menelepon rumah sakit terdekat dan lansung mendaftarkanku sebagai pasien.

Magrib hampir menjelang, aku dan suami segera pergi ke rumah sakit. Setelah mendengar keluhan dariku, sang dokter dengan sigap langsung melakukan pemeriksaan dalam (USG transvagina) dan melihat kondisi janinku. Dokter belum bisa mendiagnosa apa-apa karena ukuran janinku seperti usia lima minggu, padahal saat itu seharusnya kandunganku berusia 11 minggu. Itu artinya, janinku tidak berkembang. Dokter memberiku obat penguat kandungan dengan harapan janin ini masih bisa diselamatkan.

Keluar dari ruangan dokter, badanku terasa lemas, tak ada semangat lagi untuk mempertahankan janin ini. Air mata tak terbendung saat menunggu obat dari dokter. Pun sesampainya di rumah, aku masih menangis dengan perasaan kehilangan yang amat mendalam. Nasib calon janinku antara hidup-mati. Meski Allah belum meniupkan ruh padanya, namun aku merasakan ada jiwa yang hidup dalam rahimku.

Suami segera menelepon orang tuaku dan menceritakan segalanya. Akhirnya kedua orang tuaku memutuskan untuk berangkat ke jatinangor dari bekasi malam itu untuk menjemputku. Sekitar jam 9 malam orangtuaku datang. Setelah bersiap-siap, kami pun berangkat kembali menuju bekasi.

Selama di jalan tol, perutku mulai menandakan tanda-tanda kontraksi. Semakin lama kontraksi terasa semakin dahsyat setiap 5 menit sekali. Alhamdulillah suami setia menemani di samping. Seperti kontraksi ingin melahirkan. Aku hanya bisa meringis-menangis menahan sakit, sambil terus beristighfar selama perjalanan.

Rencananya setelah keluar dari tol, kami langsung ke IGD rumah sakit terdekat. Namun sebelum keluar tol, kontraksi sudah menghilang dan aku pun ketiduran, karena kelelahan merasakan kontraksi. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.

Beberapa langkah setelah turun dari mobil, terasa ada yang keluar dari rahimku. Seperti darah yang keluar saat haid sedang banyak-banyaknya. Setelah ditilik, ternyata ada darah menetes lumayan banyak. Aku pun segera ke kamar mandi dan mendapati calon janinku sudah keluar. Seperti gumpalan daging berukuran kepalan tangan.

Ya, dia sudah pergi. Allah menitipkannya padaku hanya sampai di sini. Alhamdulillah, lega rasanya. Tidak ada air mata, tidak sesedih saat keluar dari ruangan dokter. Allah telah menetapkan takdirNya, dan aku belajar untuk menerima dan memahami maknanya.

Alhamdulillah, sang calon janin tidak terlalu menyusahkan. Setelah periksa ke dokter kandungan, ternyata keguguran ini masuk pada kategori abortus complet karena keguguran ini tidak menyisakan apapun di dalam rahim, lengkap keluar seluruhnya. Dokter hanya memberi obat untuk peluruhan dinding rahim yang masih tebal. Kata dokter, banyak faktor yang menyebabkan janinku tidak berkembang dan akhirnya gugur. Dokter pun menyarankan untuk tidak hamil dulu selama empat kali haid agar rahimku kembali kuat.

Alhamdulillah, Allah berikan aku kesempatan merasakan rasanya hamil.
Merasakan tumbuhnya janin dalam rahimku.
Alhamdulillah wa syukurillah..